Kurban Saat Idul Adha, Sebuah Ibadah Multidimensional

Ibadah kurban saat Idul Adha dilakukan oleh seluruh umat muslim di dunia yang mampu. Kurban biasanya dilaksanakan pada Idul Adha yang jatuh setiap 10 Dzulhijjah dan tiga hari setelahnya atau pada hari-hari tasyrik. Makna utama ibadah kurban yang berupa kesediaan untuk berkorban sebagaimana ditunjukkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, dapat dijadikan inspirasi bagaimana umat manusia bisa saling berbagi dengan mempunyai makna multidimensional

Ibadah kurban pertama kali dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail itu perlu dijadikan sebagai budaya masyarakat Indonesia, tidak terikat oleh waktu atau momen apapun, termasuk Idul Adha. Waktu pelaksanaan acara qurban adalah dari mulai matahari sejarak tombak setelah sholat idul adha tanggal 10 bulan haji sampai dengan matahari terbenam pada tanggal 13 bulan haji. Ibadah kurban adalah suatu aktifitas penyembelihan hewan ternak yang dilakukan pada tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijah atau disebut juga hari tasyrik (hari raya haji / lebaran haji / lebaran kurban / Idul Adha) dengan niat untuk beribadah kepada Allah SWT. Hukum ibadah kurban adalah sunat muakkad atau sunah yang penting untuk dikerjakan.

Rasulullah melaksanakan sholat (idulAdha) di hari penyembelihan, lalu beliau menyembelih, kemudian beliau bersabda:”Barangsiapa menyembelih sebelum sholat maka hendaknyha ia mengulangi penyembelihan sebagai ganti, barangsiapa yang belum menyembelih maka hendaklah ia menyembelih dengan menyebut nama Allah”. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Kata Idul Adha artinya kembali kepada semangat berkurban. Berbeda dengan Idul Fitri yang artinya kembali kepada fitrah. Bila Idul Fitri berkaitan dengan ibadah Ramadhan, di mana setiap hamba Allah selama Ramadhan benar-benar disucikan sehingga mencapai titik fitrah yang suci, tetapi dalam Idul Adha tidak demikian. Idul Adha lebih berupa kesadaran sejarah akan kehambaan yang dicapai nabi Ibrahim dan nabi Ismail alaihimus salam. Karenanya di hari tersebut ibadah yang paling utama adalah menyembelih kurban sebagai bantuan terhadap orang-orang miskin.

Makna utama ibadah kurban yang berupa kesediaan untuk berkorban sebagaimana ditunjukkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, dapat dijadikan inspirasi bagaimana kita bisa saling berbagi dan memberdayakan sesama umat manusia, terutama mereka yang kurang beruntung. Dalam surah Ash Shaffat 100-111, Allah swt. menggambarkan kejujuran nabi Ibrahim dalam melaksanakan ibadah kurban dengan dua hal penting adalah penilaian al istijabah al fauriyah dan Shidqul istislam.  Al istijabah al fauriyah adalah kesigapan nabi Ibrahim dalam melaksanakan perintah Allah sampai pun harus menyembelih putra kesayangannya. Ini nampak ketika nabi Ibrahim langsung menemui putranya Ismail begitu mendapatkan perintah untuk menyembelihnya. Di saat yang sama ia langsung menawarkan perintah tersebut kepadanya. Allah berfirman: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Dan ternyata al istijabah al fauriyah ini nampak juga pada diri Ismail ketika menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Penilaian Shidqul istislam yakni kejujuran dalam melaksanakan perintah. Allah berfirman: “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya).”

Hewan Kurban

Hewan ternak yang boleh dijadikan hewan kurban adalah ambing biasa dengan umur lebih dari dua tahun, biri-biri atau domba dengan umur lebih dari satu tahun atau pernah ganti gigi, kerbau atau Sapi dengan umur lebih dari dua tahun atau Unta dengan umur lebih dari lima tahun.

Ibadah kurban harus dengan hewan kurban seperti kambing, sapi, dan unta, dan tidak boleh diganti dengan yang lainnya, seperti uang atau beras. Hukum berkurban hanyalah Sunat Muakkad sangat dianjurkan bagi yang mampu atau tidak wajib. Keikhlasan ini tidak cukup hanya bermodal niat tetapi juga realisasi dalam bentuk hewan kurban yang diharuskan tidak boleh cacat. Keikhlasan dalam berkurban di sini tidak karena mengikhlaskan barang yang sudah tiada manfaat baginya tetapi mengikhlaskan harta yang sebenarnya masih dicintainya (QS Ali Imran/3: 92). Hanya saja karena kecintaan kepada Tuhan lebih besar melebihi dunia seisinya.

Syarat-syarat sah pemilihan hewan kurban yang boleh menjadi hewan kurban adalah badannya tidak kurus kering, tidak sedang hamil atau habis melahirkan anak,mkaki sehat tidak pincang, mata sehat tidak buta, erbadan sehat walafiat atau daun telinga tidak terpotong

Imam Nawawi dalam syarah sahih Muslim menegaskan telah terjadi ijma’ ulama bahwa tidak sah melakukan qurban selain dengan onta, sapi dan kambing. Riwayat dari Ibnu Mundzir Hasan bin Sholeh mengatakan sah berqurban dengan banteng untuk tujuh orang dan dengan kijang untuk satu orang. Adapun riwayat dari Bilal yang mengatakan: “Aku tidak peduli meskipun berqurban dengan seekor ayam, dan aku lebih suka memberikannya kepada yatim yang menderita daripada berqurban dengannya”, maksudnya bahwa beliau melihat bahwa bersedekah dengan nilai qurban lebih baik dari berqurban. Ini pendapat Malik dan Tsauri. Begitu juga riwayat sebagian sahabat yang membeli daging lalu menjadikannya qurban, bukanlah menunjukkan boleh berqurban dengan membeli daging, melainkan itu sebagai contoh dari mereka bahwa qurban bukan wajib melainkan sunnah.

Makna Filosofi Multidimensional

Banyak filosofi dan makna keagamaan dan sosial yang  dapat dijadikan hikmah umat Islam dalam ibadah kurban . Berbagai makna penting tersebut menyangkut  aspek akidah, ibadah, sejarah, dan sosial ekonomi. Ibadah kurban, jelas dia, juga bukan tujuan akhir

Dalam kegiatan ibadah kurban itu terdapat tiga aspek yang menjadi dasar diwajibkan kurban bagi umat muslim yang sudah mampu walau hanya membeli seekor kambing, yakni pendidikan, sosial dan keimanan. dari sisi pendidikan kurban melatih umat muslim saling memberikan ilmu bagi keturunannya dengan giat melaksanakan ibadah, dari aspek sosial daging kurban dibagikan bagi fakir miskin sementara ujian keimanan seorang muslim diukur dari keihklasannya menyalurkan harta benda.

Aspek akidah dalam ibadah kurban menggambarkan totalitas dan loyalitas penuh terhadap Allah SWT. Ketakwaan harus dibudayakan melalui ibadah Kurban itu sehingga berpengaruh pada kehidupan nyata. Dari sudut pandang sosial ekonomi, Idul Adha mengajarkan nilai solidaritas sosial dan semangat berbagi kepada sesama. Idul Kurban meningkatkan pendapatan masyarakat, terutama para peternak, industri kulit, dan pekerja pemotong hewan.

Dalam konteks berbangsa dan bernegara, wujudnya berupa kesanggupan meraih cita-cita bersama, yaitu sejahtera yang berkeadilan. Bukan kesejahteraan yang dinikmati oleh perorangan atau kelompok. Semangat berkurban ini sangat penting artinya dalam membangun masa depan bangsa dan negara ke arah yang lebih maju, lebih baik dan lebih sejahtera. Semangat menyembelih hewan kurban yang dagingnya dibagikan kepada kaum fakir dan miskin,  agar terjadi solidaritas dan tolong-menolong antar anggota masyarakat.

Pengorbanan bagi orang mampu yang diberikan kepada orang miskin yang membutuhkan. Dalam surah Az-Zariat/51: 19 dan surah al-Maarij/70: 24-25) disebutkan dalam harta orang kaya itu ada hak kaum yang membutuhkan

Berkurban tidak hanya dapat dilakukan sendiri namun ada kemudahan dapat juga dilakukan secara bersama sehingga beban itu tidak dirasa berat.   Pesan pokok dari penyembelihan binatang kurban ini, menurut pesan dari salah satu situs Islam, mengandung dua nilai yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial.

Disebut kesalehan ritual karena umat Islam dan mampu itu melaksanakan perintah Tuhan yang bersifat transedental. Kurban juga disebut sebagai kesalehan sosial karena mempunyai dimensi kemanusiaan.   Bentuk solidaritas kemanusiaan ini termanifestasikan secara jelas dalam pembagian daging kurban.

Perintah berkurban bagi yang mampu ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang respek terhadap fakir-miskin dan kaum dhuafa.   Dengan disyariatkannya kurban, kaum muslimin dilatih untuk mempertebal rasa kemanusiaan, mengasah kepekaan terhadap masalah-masalah sosial, mengajarkan sikap saling menyayangi terhadap sesama.

Melaksanakan ibadah kurban tak semata ibadah yang berhubungan dengan Sang Pencipta, namun lebih bermakna sosial.   Hanya sedikit dari orang banyak yang sadar. Hanya sedikit dari orang yang sadar itu yang mau berjuang. Dan hanya sedikit dari yang berjuang itu yang mau berkurban.

Pengorbanan sesungguhnya bukan hanya harta benda, melainkan juga jiwa, raga, hati dan pikiran yang semata-mata karena Allah. Seorang yang beriman, akan memberikan sesuatu yang paling dicintainya kepada Allah SWT, seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim.

Ibadah kurban perlu dikembangkan sebagai budaya sehari-hari untuk mewujudkan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.  Ibadah kurban memiliki kandungan nilai sosial kemasyaraatan yang tinggi. Kurban sarat dengan muatan-muatan sosial, yang memiliki peran besar dalam mengikis jurang antara yang kaya dengan yang miskin.

Kebiasaan berkurban dapat dibudayakan dan dilestarikan setiap hari, karena akan berdampak positif dalam upaya mengikis kesenjangan di tengah masyarakat.   Ibadah kurban sarat dengan muatan keadilan. Yang kaya harus ingat dengan titipan rizki dari Allah SWT dengan menginfakkan sebagian hartanya kepada yang miskin. Sedangkan yang miskin akan merasakan haknya terpenuhi dan tertolong untuk bisa menyambung hidup. Itulah esensi ajaran Islam yang menyerukan keadilan dalam kehidupan.

Apabila seorang sudah memiliki kemampuan namun tidak berkurban, maka nabi mengharamkan orang tersebut untuk shalat di mesjid. Ini penegasan dari Nabi Muhammad SAW.

Selayaknya tradisi kurban tersebut dijadikan kebudayaan bagi umat islam sehingga setiap orang yang memiliki kemampuan menjadi seorang yang bijak, adil dan taat agama.   Kurban itu mengandung berbagai aspek positif bagi seseorang dan selayaknya memang tradisi ini dijadikan kebudayaan yang lebih melekat di tengah umat islam.

Hukum Kurban

Sebaiknya dalam dalam melakukan qurban, pelakunyalah yang menyembelih dan tidak mewakilkannya kepada orang lain. Apabila ia mewakilkan kepada orang lain maka sebaiknya ia menyaksikan.

Mayoritas ulama mengatakan kurban hukumnya sunnah, barangsiapa melaksanakannya mendapatkan pahala dan barang siapa tidak melakukannya tidak dosa dan tidak harus qadla, meskipun ia mampu dan kaya. kurban hukumnya sunnah kifayah kepada keluarga yang beranggotakan lebih satu orang, apabila salah satu dari mereka telah melakukannya maka itu telah mencukupi.  Kurban menjadi sunnah ain kepada keluarga yang hanya berjumlah satu orang. Mereka yang disunnah berkurban adalah yang mempunyai kelebihan dari kebutuhan sehari-harinya yang kebutuhan makanan dan pakaian.

Para ulama berbeda pendapat mengenai ukuran seseorang disunnahkan melakukan qurban. Imam Hanafi mengatakan barang siapa mempunyai kelebihan 200 dirham atau memiliki harta senilai itu, dari kebutuhan tinggal, pakaian dan kebutuhan dasarnya.Imam Ahmad berkata: ukuran mampu quran adalah apabila dia bisa membelinya dengan uangnya walaupun uang tersebut didapatkannya dari hutang yang ia mampu membayarnya. Imam Malik mengatakan bahwa ukuran seseorang mampu qurban adalah apabila ia mempunyai kelebihan seharga hewan qurban dan tidak memerlukan uang tersebut untuk kebutuhannya yang mendasar selama setahun. Apabila tahun itu ia membutuhkan uang tersebut maka ia tidak disunnahkan berqurban. Imam Syafii mengatakan: ukuran mampu adalah apabila seseorang mempunyai kelebihan uang dari kebutuhannya dan kebutuhan orang yang menjadi tanggungannya, senilai hewan qurban pada hari raya Idul Adha dan tiga hari tasyriq.

Hukum memakan daging qurban yang dilakukan untuk dirinya sendiri, apabila qurban yang dilakukan adalah nadzar maka haram hukumnya memakan daging tersebut dan ia harus menyedekahkan semuanya. Adapun qurban biasa, maka dagingnya dibagi tiga, sepertiga untuk dirinya dan keluarganya, sepertiga untuk dihadiahkan dan sepertiga untuk disedekahkan.  Membagi tiga ini hukumnya sunnah dan bukan merupakan kewajiban. Qatadah bin Nu’man meriwayatkan Rasulullah bersabda:”Dulu aku melarang kalian memakan daging qurban selama tiga hari untuk memudahkan orang yang datang dari jauh, tetapi aku telah menghalalkannya untuk kalian, sekarang makanlah, janganlah menjual daging qurban dan hadyu, makanlah, sedekahkanlah dan ambilah manfaat dari kulitnya dan janganlah menjualnya, apabila kalian mengharapkan dagingnya maka makanlah sesuka hatimu”(H.R. Ahmad).

Dari Barra’ bin ‘Azib, bahwa paman beliau bernama Abu Bardah menyembelih qurban sebelum sholat, lalu sampailah ihwal tersebut kepada Rasulullah s.a.w. lalu beliau bersabda:”Barangsiapa menyembelih sebelum sholat maka ia telah menyembelih untuk dirinya sendiri dan barang siapa menyembelih setelah sholat maka sempurnalah ibadahnya dan sesuai dengan sunnah (tradisi) kaum muslimin”(H.R. Bukhari dan Muslim).

Hadist Barra’ bin ‘Azib, Rasulullah s.a.w. bersabda:”Pekerjaan yang kita mulai lakukan di hari ini (Idul Adha) adalah sholat lalu kita pulang dan menyembelih, barangsiapa melakukannya maka telah sesuai dengan ajaran kami, dan barangsiapa memulai dengan menyembelih maka sesungguhnya itu adalah daging yang ia persembahkan untuk keluarganya dan tidak ada kaitannya dengan ibadah”(H.R. Muslim).

Imam Nawawi menegaskan dalam syarah sahih Muslim bahwa waktu penyembelihan sebaiknya setelah sholat bersama imam, dan telah terjadi konsensus (ijma’) ulama dalam masalah ini. Ibnu Mundzir juga menyatakan bahwa semua ulama sepakat mengatakan tidak boleh menyembelih sebelum matahari terbit.

Adapun setelah matahari terbit, Imam Syafi’i dll menyatakan bahwa sah menyembelih setelah matahari terbit dan setelah tenggang waktu kira-kira cukup untuk melakukan sholat dua rakaat dan khutbah. Apabila ia menyembelih pada waktu tersebut maka telah sah meskipun ia sholat ied atau tidak

Menyembelih hewan qurban di malam hari hukumnya makruh sesuai pendapat Imam Syafii. Bahkan menurut imam Malik dan Ahmad: menyembelih pada malam hari hukumnya tidak sah dan menjadi sembelihan biasa, bukan qurban.

ARTIKEL IBADAH DAN SALAT

Supported By :

Sandiaz Yudhasmara

KORAN ANAK INDONESIA, Yudhasmara Publisher  “PUPUK MINAT BACA ANAK DAN REMAJA INDONESIA SEJAK DINI”. Membaca adalah investasi paling kokoh bagi masa depan perkembangan moral dan intelektual anak. “SELAMATKAN MINAT BACA ANAK INDONESIA”.

Jl Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta PusatPhone : (021) 70081995 – 5703646

email : judarwanto@gmail.com http://mediaanakindonesia.wordpress.com/

Copyright 2011. Koran Anak Indonesia Network Information Education Network. All rights reserved

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s