Kontroversi Penyimpangan Ajaran Ahmadiyah

Kontroversi Ajaran Ahmadiyah

Menurut sudut pandang umum umat Islam, ajaran Ahmadiyah (Qadian) dianggap melenceng dari ajaran Islam sebenarnya karena mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi yaitu Isa al Masih dan Imam Mahdi, hal yang bertentangan dengan pandangan umumnya kaum muslim yang mempercayai Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir walaupun juga mempercayai kedatangan Isa al Masih dan Imam Mahdi setelah Beliau saw(Isa al Masih dan Imam Mahdi akan menjadi umat Nabi Muhammad SAW).

Perbedaan Ahmadiyah dengan kaum Muslim pada umumnya adalah karena Ahmadiyah menganggap bahwa Isa al Masih dan Imam Mahdi telah datang ke dunia ini seperti yang telah dinubuwwatkan Nabi Muhammad SAW. Namun umat Islam pada umumnya mempercayai bahwa Isa al Masih dan Imam Mahdi belum turun ke dunia. Sedangkan permasalahan-permasalahan selain itu adalah perbedaan penafsiran ayat-ayat al Quran saja

Ahmadiyah sering dikait-kaitkan dengan adanya kitab Tazkirah. Sebenarnya kitab tersebut bukanlah satu kitab suci bagi warga Ahmadiyah, namun hanya merupakan satu buku yang berisi kumpulan pengalaman ruhani pendiri Jemaat Ahmadiyah, layaknya diary. Tidak semua anggota Ahmadiyah memilikinya, karena yang digunakan sebagai pegangan dan pedoman hidup adalah Al Quran-ul-Karim saja.

Ada pula yang menyebutkan bahwa Kota suci Jemaat Ahmadiyah adalah Qadian dan Rabwah. Namun tidak demikian adanya, kota suci Jemaat Ahmadiyah adalah sama dengan kota suci umat Islam lainnya, yakni Mekkah dan Madinah.

Sedangkan Ahmadiyah Lahore mengakui bahwa Mirza Ghulam Ahmad hanyalah mujaddid dan tidak disetarakan dengan posisi nabi, sesuai keterangan Gerakan Ahmadiyah Indonesia (Ahmadiyah Lahore) untuk Indonesia yang berpusat di Yogyakarta.

Sejak dulu kala Muhammadiyah tidak memiliki problem serius dengan Ahmadiyah, terutama Lahore. Resistensi Muhammadiyah baru muncul saat MUI mengeluarkan fatwa kesesatan Ahmadiyah pada 1984. Kesimpulan itu tentu saja layak untuk diperdebatkan. Beberapa literatur justru menunjukkan bahwa sikap resisten Muhammadiyah sudah muncul jauh sebelum dekade 1980-an.  Buya Hamka dalam buku “Peladjaran Agama Islam (PAI)” (terbit pertama kali pada 1956) menulis, Ahmadiyah – baik Qadiani atau Lahore – masuk ke Indonesia sejak tahun 1920-an. Qadiani masuk melalui Tapak Tuan, kemudian ke Minangkabau di zaman kejayaan Sumatera Thawalib di Padang Panjang sekitar tahun 1923.

Awalnya, beberapa pelajar Sumatera Thawalib melanjutkan studi ke luar negeri. Di sana mereka secara intens dibina Qadiani hingga bisa bertemu dengan Khalifatul Masih II. Setelah dinilai matang dalam ajaran Ahmadiyah Qadiani, mereka pun disuruh pulang ke Minangkabau ditemani seorang dai Qadiani, Maulvi Rahmat Ali. Di tanah kelahirannya, mereka pun menggelar berbagai perdebatan tentang keyakinannya dengan ulama lokal.

Tentu saja, keyakinan menyimpang yang mereka bawa ditentang para ulama. Karena hanya memperoleh beberapa puluh pengikut di Sumatera, Rahmat Ali pun pindah ke Jawa, dan mendapat beberapa orang pengikut. Namun akhirnya usaha di Jawa juga mendapat tentangan keras, terutama, dari tokoh Persis, A Hassan. Dalam sebuah perdebatan di Bandung, A Hassan membuka semua kekeliruan Qadiani dan terbongkarlah semua kepalsuannya oleh pendebat ulung itu.

Hampir bersamaan dengan Qadiani, aliran Lahore juga hadir di Indonesia. Pada tahun 1924, dua orang utusan Lahore datang ke Yogya, yaitu Maulana Ahmad dan Mirza Ali Ahmad Beig. Menurut Hamka, ada dua tokoh Muhammadiyah yang mengikuti ajaran ini, yaitu M Ngabehi Joyosugito dan M Yunus Anis. Saat itu, belum ada sikap tegas dari Muhammadiyah atas kedua tokohnya tersebut.

Pada 1925 Syaikh Abdul Karim Amrullah datang ke Yogya dan sempat berdebat dengan Ahmad Beig di depan H Fakhruddin. Dari perdebatan itu H Fakhruddin baru tahu bahwa Qadiani dan Lahore tidak jauh berbeda. Meski demikian, Muhammadiyah tetap belum bisa mengambil sikap tegas. Selang dua tahun kemudian, muballigh terkenal dari India, Maulana Abdul Aleem As-Shiddiqi, datang ke Yogya dan berceramah tentang hakikat Ahmadiyah Qadiani dan Lahore. Baru setelah ini Muhammadiyah bersikap tegas dengan mengeluarkan kedua tokohnya yang telah terjangkit penyakit Ahmadiyah itu.

Pada tahun 1984 keluar fatwa MUI tentang kesesatan Ahmadiyah pada saat itu Buya Hamka menjabat ketua MUI. Sikap ini sesungguhnya adalah akumulasi dari resistensi Hamka dan Muhammadiyah terhadap Ahmadiyah. Dalam buku PAI tersebut, Hamka secara panjang lebar membahas Ahmadiyah, mulai dari sejarah kemunculan, ajaran, hingga masuknya ajaran itu ke Indonesia.

Ada dua substansi penting dalam buku itu lahirnya nabi palsu di zaman modern (Mirza Ghulam Ahmad) tidak lepas dari dukungan kolonial Inggris untuk melemahkan perlawanan umat Islam. Dan Ahmadiyah lebih berbahaya daripada Bahai. Karena, Bahai secara jantan mengaku dirinya bukan bagian dari Islam, sedangkan Ahmadiyah tetap menempel pada Islam. Dengan status seperti ini, Kaum Ahmadi dinilai berpotensi merusak Islam dari dalam. Karena itulah, Hamka menulis Ahmadiyah sebagai “agama” bukan “aliran”. Sebagai “agama”, Hamka melihat Ahmadiyah memiliki akidah dan syariat yang berbeda dengan Islam. Akidah Ahmadiyah berinti pada keyakinan akan kenabian Mirza Ghulam Ahmad. Sedangkan syariatnya bertumpu pada upaya mengekalkan kolonialisme Inggris di India dengan menghapuskan ajaran jihad.

Ahmadiyah menurut pengikutnya

Pada tahun 1835, di sebuah desa bernama Qadian, di daerah Punjab, India, lahir seorang anak laki-laki bernama Ghulam Ahmad. Orang tuanya Muslim dan ia tumbuh dewasa menjadi seorang Muslim yang luar biasa. Sejak awal kehidupannya, Mirza Ghulam Ahmad sudah amat tertarik pada telaah dan khidmat agama Islam. Ia sering bertemu dengan individual Kristiani, Hindu ataupun Sikh dalam perdebatan publik, serta menulis dan bicara tentang mereka. Hal ini menjadikan lingkungan keagamaan menjadi tertarik kepadanya dan ia dikenal baik oleh para pimpinan komunitas. Mirza Ghulam Ahmad mulai menerima wahyu Ilahi sejak usia muda dan dengan berjalannya waktu maka pengalaman perwahyuannya berlipat kali secara progresif. Setiap wahyu yang diterimanya kemudian terpenuhi pada saatnya, sebagian di antaranya yang berkaitan dengan masa depan masih menunggu pemenuhannya. Dakwahnya menyatakan diri sebagai Imam Mahdi dan Masih Mau’ud (al Masih) dilakukan di akhir tahun 1890, dan dipublikasikan ke seluruh dunia. Pernyataannya, seperti juga halnya para pembaharu Ilahiah lainnya seperti Nabi Isa dan Nabi Muhammad SAW, langsung mendapat tentangan luas. Sebelum menyatakan dirinya sebagai Masih Mau’ud, Allah SWT telah menjanjikan kepada Mirza Ghulam Ahmad melalui wahyu bahwa: Aku akan membawa pesanmu sampai ke ujung-ujung dunia.— Mirza Ghulam Ahmad

Wahyu ini memberikan janji akan adanya dukungan Ilahi dalam penyebaran ajaran Jemaat yang telah dimulainya di dalam Islam. Mentaati perintah Tuhan, Mirza Ghulam Ahmad menyatakan diri sebagai Al-Masih bagi umat Kristiani, sebagai Imam Mahdi bagi umat Muslim, sebagai Krishna bagi umat Hindu, dan lain sebagainya. Jelasnya, ia adalah “Nabi Yang Dijanjikan” bagi masing-masing bangsa, dan ditugaskan untuk menyatukan umat manusia di bawah bendera satu agama. Nabi Muhammad SAW sebagai nabi umat Islam adalah seorang nabi yang membawa ajaran yang bersifat universal; dan sosok Mirza Ghulam Ahmad yang menyatakan diri sebagai al Masih yang dijanjikan juga menyatakan dirinya tunduk dan menjadi refleksi dari Muhammad, Khataman Nabiyin. Menjelaskan tentang tujuan diutusnya wujud Masih Mau’ud, ia menjelaskan:

Tugas yang diberikan Tuhan kepadaku ialah agar aku dengan cara menghilangkan hambatan di antara hamba dan Khalik-nya, menegakkan kembali di hati manusia, kasih dan pengabdian kepada Allah. Dan dengan memanifestasikan kebenaran lalu mengakhiri semua perselisihan dan perang agama, sebagai fondasi dari kedamaian abadi serta memperkenalkan manusia kepada kebenaran ruhaniah yang telah dilupakannya selama ini. Begitu juga aku akan menunjukkan kepada dunia makna kehidupan keruhanian yang hakiki yang selama ini telah tergeser oleh nafsu duniawi. Dan melalui kehidupanku sendiri, memanifestasikan kekuatan Ilahiah yang sebenarnya dimiliki manusia namun hanya bisa nyata melalui doa dan ibadah. Di atas segalanya adalah aku harus menegakkan kembali Ketauhidan Ilahi yang suci, yang telah sirna dari hati manusia, yang bersih dari segala kekotoran pemikiran polytheistik.— Mirza Ghulam Ahmad

Menyusul wafatnya Mirza Ghulam Ahmad pada tahun 1908, para Muslim Ahmadi memilih seorang pengganti sebagai Khalifah. Sosok Khalifah merupakan pimpinan keruhanian dan administratif dari Jemaat Islam Ahmadiyah. Pimpinan tertinggi dari Jemaat Ahmadiyah di seluruh dunia pada saat ini (2007) adalah Hadhrat Mirza Masroor Ahmad yang berkedudukan di London, dan terpilih sebagai Khalifah kelima. Ia banyak berkunjung ke berbagai negara dan cermat mengamati budaya dan masyarakat lainnya.

Dengan bimbingan seorang Khalifah, Jemaat Ahmadiyah berada di barisan terdepan dalam khidmat dan kesejahteraan kemanusiaan. Banyak sekolah-sekolah, klinik dan rumah sakit yang didirikan di berbagai negeri, dimana mereka yang papa dan miskin dirawat secara gratis. Saat terjadi bencana alam, Jemaat Ahmadiyah membantu secara sukarela secara finansial ataupun fisik tanpa membedakan agama, warna kulit atau pun bangsa. Jemaat Ahmadiyah telah memiliki jaringan televisi global yang bernama “MTA (Muslim Television Ahmadiyya) International”, yang mengudara dua puluh empat jam sehari dalam beberapa bahasa dunia. Layanan ini diberikan tanpa memungut biaya. Jemaat Ahmadiyah telah menyebar ke lebih dari 170 negara di dunia dan populasinya diperkirakan sudah mencapai 80 juta manusia yang telah berbai’at ke dalam Jemaat pada tahun 2001.

 

Sumber : wikipedia dan berbagai sumber lainnya

Supported By :

Audi Yudhasmara

KORAN ANAK INDONESIA, Yudhasmara Publisher

“PUPUK MINAT BACA ANAK DAN REMAJA INDONESIA SEJAK DINI”. Membaca adalah investasi paling kokoh bagi masa depan perkembangan moral dan intelektual anak. “SELAMATKAN MINAT BACA ANAK INDONESIA”.

Jl Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta PusatPhone : (021) 70081995 – 5703646

email : judarwanto@gmail.com http://mediaanakindonesia.wordpress.com/

    Copyright 2011. Koran Anak Indonesia  Network  Information Education Network. All rights reserved

3 thoughts on “Kontroversi Penyimpangan Ajaran Ahmadiyah”

  1. Emangnya kalo di Ahmad atau Mirza itu bisa apa? kok ngaku Isa Almasih>? bisa merubah batu jadi roti?( sulap kali) mencelikkan orang buta( pake operasi?) atau bisa menjadi hakim akhir jaman? Cuma Yesus yang begitu….ada lobang paku gak di tangannya? Bagi saya hanya Yesus yang menjadi jalan keselamatan dan hidup, tidak ada yang sampai pada Allah kalau tidak melalui Aku…gitu!!!

  2. Menurut saya Ahmadiyah itu Islam bahkan Muslim Sejati, karena Allah Yang Maha mengetahui telah menjadikan HMG Ahmad (Pendiri Jemaat Ahmadiyah) as sebagai Khalifah Allah, Imam Mahdi dari antara umat Islam yang beriman dan beramal shaleh (An-Nuur 24:55). Allah Yang Maha Kuasa juga telah menganugerahkan Nikmat-Nya kepada HMG Ahmad as sebagai Nabi Ummati, karena ketaatannya yang sempurna kepada Allah dan Nabi Muhammad saw (An-Nisa 4:69). Rasulullah saw bersabda bahwa Imam Mahdi itu adalah Khalifah Allah (HR Sunan Ibnu Majah/Abu Daud), pemimpin pejuang Islam dari wilayah India, namanya AHMAD (HR Bukhari dlm Tarikhnya) yang datang pada awal abad ke-14 Hijriah (An-Nuur 24:55).

    Adakah orang lain, selain HMG Ahmad as, yang mendakwakan diri sebagai Khalifah Allah, Imam Mahdi, Masih Mau’ud dan Nabi Ummati yang datang pada awal abad ke-14 Hijriah dengan tanda-tanda yang diisyaratkan Allah dalam Al Qur’an dan dijelaskan Rasulullah saw dalam hadits-hadits shahih wal mutawatir tersebut?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s