Jeffry Al Buchori, Ustadz Selebritis Sadar Dari Kegelapan

Jeffry Al Buchori biasa populer dipanggil Uje adalah seorang pendakwah atau ustad yang tampil dengan mengemas bahasa dakwahnya dengan bahasa-bahasa anak muda. Sehingga ustad Uje kerap juga dipanggil sebagai ustad gaul. Uje lahir Jakarta, 12 April 1973.

Jefri anak ketiga dari lima bersaudara pasangan Alm. H. Ismail Modal dan Ustz Dra. Hj. Tatu Mulyana ini sejak kecil telah mendapat pendidikan Islam yang kuat. Hal ni terbukti saat duduk di bangku sekolah kelas 3-5 SD meraih prestasi MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an) sampai tingkat provinsi. Setelah lulus SD, bersama kedua kakaknya, Alm. Ust. H. Abdullah Riyad dan Ust. H. Aswan Faisal, bersekolah di Pondok Pesantren Daar el-Qolam Gintung, Jayanti Tangerang.

Namun selama di pesantren, Uje terbilang nakal. Seringkali saat teman-temannya menunaikan salat, ia diam-diam tidur atau kabur dari pesantren untuk main dan nonton di bioskop. Sampai akhirnya Uje dikeluarkan dari pesantren tersebut yang sempat dikecapnya selama 4 tahun dari 6 tahun yang harus dijalani. Setelah itu, Uje dipindahkan ke Madrasah Aliyah (MA, setingkat SMA). Bukannya bertambah baik, kenakalan Uje justru bertambah.

M. Ismail Modal, Ayah Uje adalah pria bertubuh tinggi besar asli Ambon, sedangkan ibu, Tatu Mulyana asli Banten. Ayah mendidik kami berlima dengan sangat keras. Tapi, kalau tidak begitu, dia tidak akan merasakan manfaat seperti sekarang. Kalau sampai lupa salat atau mengaji, jangan ditanya hukuman yang akan diberikan Apih. Dalam hal agama, orang tua memang mendidik kami secara ketat.

Namun, sebetulnya Umi adalah seorang ibu yang amat sabar dan lembut dalam menghadapi anak-anaknya. Apih pun orang yang selalu bersikap obyektif. Dia akan membela keluarganya mati-matian bila memang keluarganya yang benar. Sebaliknya dia tidak segan-segan menyalahkan kami bila memang berbuat salah.

Berada di lingkungan keluarga yang taat agama membuatku menyukai pelajaran agama. Sewaktu kelas 5 SD, Uje pernah ikut kejuaraan MTQ sampai tingkat provinsi. Selain agama, pelajaran yang juga disukai adalah kesenian.

Lulus SD, Uje masuk sebuah pesantren modern di Balaraja, Tangerang. Di pesantren, dia sering berulah. Salah satu kenalakannya, di saat yang lain salat, dia diam-diam tidur. Kenakalan lain, kabur dari pesantren untuk main atau nonton di bioskop adalah hal biasa. Sebagai hukumannya, kepalanya sering dibotaki. Tapi, tetap saja tak jera.

Tampaknya dia seperti punya kepribadian ganda. Di satu sisi dia nakal, di sisi lain keinginan untuk melantunkan ayat-ayat suci begitu kuat. Tiap ada kegiatan keagamaan, dia selalu terlibat. Bersama kedua kakaknya dia juga pernah membuat drama tanpa naskah berjudul Kembali Ke Jalan Allah yang diperlombakan di pesantren. Ternyata karyanya itu dinilai sebagai drama terbaik se-pesantren.

Uje juga juara lomba azan, lomba MTQ, dan qasidah. Akan tetapi, Uje tetap juga tak pernah ketinggalan dalam kenakalan. Tinggal dalam lingkungan pesantren, kelakuan buruknya bukannya berkurang, malah makin menjadi. Puncaknya, Uje sudah bosan bersekolah di pesantren.

Akhirnya, hanya empat tahun Uje di pesantren. Dua tahun sebelum menamatkan pelajaran, dia keluar. Lalu, Uje masuk ke sekolah aliyah (setingkat SMA). Rupanya keluar dari pesantren tidak membuatnya lebih baik. Uje yang mulai beranjak remaja justru jadi makin nakal.

Tiap ada acara keagamaan Uje tak pernah ketinggalan. Namun, dia juga selalu mau bila ada teman mengajak ke kantin sekolah. Bukan untuk jajan, tapi memakai narkoba! Uje juga sering kabur dan pergi tanpa tujuan yang jelas. Pindah ke SMA lain, keseharianku tak jauh berbeda. Malah makin parah. Dari perkenalan dengan beberapa teman, Uje mengenal petualangan baru. Umur 16 tahun, dia mulai kenal dunia malam. Uje masuk sekolah hanya saat ujian. Buatnya, yang penting lulus. Uje lebih suka mendatangi diskotek untuk menari karena dia memang tertarik pada tarian di diskotek. Tiap ke sana, diam-diam dia selalu mempelajari gerakan orang-orang yang nge-dance. .Akhirnya Uje jadi seorang penari, bertualang dari satu diskotek ke diskotek lain, tenggelam dalam dunia malam. Saat ada lomba dance, Uje mencoba ikut. Usahaku tak sia-sia. Beberapa kali berhasil memboyong piala ke rumah sebagai the best dancer. Selain itu, juga berhasil jadi penari di Dufan pada tahun 1990, meski hanya selama setahun. Dengan segala kebengalanku, tahun 1990 aku berhasil lulus SMA.

Tahun 1990, Jefri main sinetron Pendekar Halilintar. Saat itu, sinetron masih dipandang sebelah mata oleh bintang film. Namun, Ayahnya mati-matian menentangku. Rupanya ayahnya tahu persis seperti apa lingkungan dunia film. Dulu, beliau juga pernah main film action, antara lain Macan Terbang dan Pukulan Berantai. Dari beliau ayahnyalah Uje menuruni darah seni.

Ditentang ayahnya tak membuat langkahnya surut. Mungkin jalan hidupnya memang harus begini. Tak satu pun larangan Aayah yang mampir ke otaknya untuk kujadikan bahan pikiran. Nasihat Apih tak lagi didengarkan. Tawaran untuk main sinetron yang berdatangan membuatnya makin yakin, inilah yang dicari. Dia tak mau menuruti keinginan orang tua karena merasa dirinya benar. Akhirnya konflik antara Uje dan orang tuaku pecah. Sebagai bentuk perlawanannya pada orang tua, dia tak pernah pulang ke rumah. Tidur berpindah-pindah di rumah teman. Rambut juga dipanjangkan. Uje seperti tak punya orang tua. Bahkan, tak pernah terlintas dalam benaknya bahwa suatu hari mereka akan pulang ke haribaan. Yang kupikirkan hanya kesenangan dan egonya semata.

Pada saat bersamaan, kariernya di dunia seni peran terus melaju. Uje semakin mendapatkan keasyikan. Setelah itu, Uje mendapat peran dalam sinetron drama Sayap Patah yang juga dibintangi Dien Novita, Ratu Tria, dan almarhum WD Mochtar. Uje semakin merasa pilihannya tak salah setelah dinobatkan sebagai Pemeran Pria Terbaik dalam Sepekan Sinetron Remaja yang diadakan TVRI tahun 1991. Aku bangga bukan main, karena merasa menang dari orang tua. Kesombongannya makin menjadi. Uje makin merasa inilah yang terbaik buatku, ketimbang pilihan orangtuanya. Tawaran main sinetron berdatangan menghampiri Jeffry. Seiring dengan itu, ia makin tenggelam dalam dunianya yang kelam.

Sejak kenal sinetron, dia makin menyukai dunia akting. Uje tak peduli meski ayah menentangnya. Namun, belakangan dia paham, di balik ketidaksetujuannya, sebetulnya orang menyimpan rasa bangga. Orang tua cerita, mereka sedang ke Tanah Suci membawa rombongan ibadah haji saat sinetron Sayap Patah yang dimainkan ditayangkan.

Ternyata, mereka nonton sinetronnya. Komentar mereka membanggakannya. Mereka mengakui, ternyata Uje bisa berprestasi. Setelah itu, Ije mendapat berbagai tawaran main, antara lain sinetron Sebening Kasih, Opera Tiga Jaman, dan Kerinduan. Selain namanya makin mencuat, rezeki juga terus mengalir.

Namun, Uje malah jadi lupa diri. Ketenaran tidak penting buatku. Yang penting menikmati hidup. Dunia malam terus kugeluti. Kalau ke diskotek, Uje tak lupa mengonsumsi narkoba. Bahkan, untuk urusan yang satu ini, Uje bisa dibilang tamak. Biasanya, dia meminum satu pil dulu. Kalau kurasa belum “on”, minum satu lagi. Begitu seterusnya. Akhirnya, dia jadi sangat mabuk. Pandanganpun jadi kabur. Mau melihat arloji di tangan saja, dia harus mendekatkannya ke wajahku, sambil menggoyang-goyangkan kepala dan membelalakkan mata supaya bisa melihat dengan lebih jelas.

Suatu hari di tahun 1992, Ayahnya meninggal karena sakit. Uje menyesal bukan main karena selama ini selalu mengabaikan nasihat Ayahnya. Menjelang kepergiannya, dia berdiri di samping tempat tidurnya di rumah sakit sambil menangis. Melihatnya seperti itu, ayahnya mengatakan, laki-laki tak boleh menangis. Laki-laki pantang keluar air mata. Bayangkan, bahkan di saat-saat terakhirnya pun ayahnya tetap menunjukkan sikapnya yang penuh kasih padanya yang durhaka ini.

Sore itu dia diminta pulang ke rumah dan beliau memberiku ongkos. Uje menurut. Begitu aku pulang, Allah mengambilnya. Dia syok berat. Saat Ayah dimakamkan, dia turun ke liang lahat dan memeluk jasadnya. Uje tak mau beranjak meski makam akan ditutup. Uje tak mau melepas kepergiannya. Dia menyesali perbuatannya. Selama ayah masih hidup, dia tak pernah mau mendengarkan ucapannya.

Sejak itu, Ibunya membesarkan mereka berlima. Hidupnya terus berjalan. Bukan ke arah yang baik, namun aku kembali ke masa seperti dulu. Penyesalan yang sebelumnya begitu menghantuiku karena ditinggal ayah, seolah lenyap. Kebandelannya bahkan makin menjadi sepeninggal ayah. Kesombongannya juga lebih besar dari sebelumnya karena merasa berprestasi dan punya uang banyak. Tak seorang pun didengarkan lagi nasihatnya.

Jadi, tidak perlu membawa-bawa orang lain atau keadaan. Namun, kesadaran seperti ini mana mungkin muncul pada diriku yang waktu itu sangat arogan? Uje makin jauh dari Tuhan. Padahal, sebelah rumahnya ada masjid. Ketika orang berpuasa di bulan Ramadan pun, dia tetap melakukan kemaksiatan. Lalu, saat Lebaran tiba dan orang-orang sibuk bertakbir, dia malah sibuk mencari celah waktu dan tempat di mana aku bisa berbuat maksiat.

Semua ilmu agama yang pernah kupelajari dan kemampuan membaca Quran seperti hilang. Akal sehatnya seperti hilang. Kecanduanku pada narkoba juga makin parah, bahkan sampai mengalami over dosis dan dia hampir mati. Kejahatan demi kejahatann moral terus dilakukan.

Beberapa kejahatan dilakukannya. Suatu hari dia merasa menderita karena ketakutan setelah melakukan sebuah perbuatan. Uje benar-benar ketakutan! Dia jadi gampang curiga pada siapa saja. Da selalu berburuk sangka pada apa pun. Kesombonganku pada uang dan prestasi lenyap digantikan ketakutan. Yang dilakukan setiap hari adalah berdiam diri di kamar, dengan selalu berpikiran bahwa setiap orang yang datang akan membunuhnya. Dia sibuk mengintip dari bawah pintu, siapa tahu ada orang datang untuk membunuhnya. Telinganya jadi sangat sensitif. Dia sering merasa mendengar ada orang sedang berjalan di atap rumah ingin membunuhnya. Dia tersiksa selama berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Orang-orang mengatakan, aku sudah gila. Semua keadaan itu sebenarnya karena kondisi dia karena pengaruh narkoba yang sangat berat.

Pada saat bersamaan, kecanduannya pada narkoba membuatnya termasuk dalam daftar hitam dunia sinetron. Namanya dicoret. Tak ada lagi yang mau memakainya sebagai pemain. Selain itu, cewek-cewek yang ada di dekatnya juga menjauh. Dulu dia termasuk playboy.

Di saat dia sendiri, ada ibu yang selama ini sudah sangat sering disakiti hatinya. IBunya tetap menyayangi dengan cintanya yang besar. Seburuk apa pun orang berkomentar tentang aku, hati ibu tetap baik dan sabar. Air matanya tak pernah kering untuk mendoakan anak-anaknya, terutama Uje agar berubah jadi lebih baik.

Doa tulus Umi dikabulkan Allah. Sungguh luar biasa, Allah menunjukkan kebaikan-Nya pada Uje. Allah memberiku kesempatan untuk bertobat. Kesadaran ini muncul lewat suatu proses yang begitu mencekamku

Pengakua Jefri Saat Sadar

Sungguh, Uje merasa sangat ketakutan ketika suatu hari bermimpi melihat jasadku sendiri dalam kain kafan. Antara sadar dan tidak, aku terpana sambil bertanya pada diri sendiri. Benarkah itu jasadku? Aku juga disiksa habis-habisan. Begitulah, setiap tidur aku selalu bermimpi kejadian yang menyeramkan. Dalam tidur, yang kudapat hanya penderitaan. Aku jadi takut tidur. Aku takut mimpi-mimpi itu datang lagi.

Aku juga jadi takut mati. Padahal dulu aku sempat menantang maut. Meminta mati datang karena aku tak sanggup lagi bertahan saat ada masalah dengan seorang cewek. Sebetulnya sepele, kan? Tapi masalah itu kuberat-beratkan sendiri. Rasa takut mati itulah yang akhirnya membuatku sadar bahwa ada yang tidak meninggalkanku dalam keadaan seperti ini, yaitu Allah.

Aku teringat kembali pada-Nya dan menyesali semua perbuatanku selama ini. Pelan-pelan, keadaanku membaik. Kesadaran-kesadaran itu datang kembali. Aku menemui Umi, bersimpuh meminta maaf atas semua dosa yang kulakukan. Umi memang luar biasa. Betapa pun sudah kukecewakan demikian rupa, beliau tetap menyayangi dan memaafkanku. Umi lalu mengajakku berumrah.

Dengan kondisiku yang masih labil dan rapuh, kwluarga Uje berangkat ke Tanah Suci. Kali ini dia berniat sembuh dan kembali ke jalan Allah. Di sana, Uje mengalami beberapa peristiwa yang membuatku sadar pada dosa-dosaku sebelumnya. Usai salat Jumat di Madinah, Umi mengajakku ke Raudhoh. Uje tak tahu apa itu Raudhoh, tapi kuikuti saja. Umi terus meminta ampunan pada Allah. Uje lalu keluar, berjalan menuju makam Nabi Muhammad. Dia bersalawat. Begitu keluar dari pintu masjid, rasanya seperti ada yang menarikku. Dia mencoba berjalan sekuat tenaga, tapi tak bisa. Kekuatan itu rasanya sangat besar. Dia lalu bersandar pada tembok. Air matanya yang dulu tak pernah keluar, kini mengalir deras. Dia menyesali dosa-dosaku, dan berjanji tak akan melakukan lagi semua itu.

Bagai sebuah film yang sedang diputar, semua dosa yang pernah kulakukan terbayang jelas di pelupuk mataku silih berganti, mulai dari yang kecil sampai yang besar. Tiba-tiba dari mulutku keluar kalimat permintaan ampunan pada Allah. Di Mekkah, di hadapan Kabah, dia merapatkan badan pada dindingnya.

Uje bersandar, menengadahkan tangan memohon ampun karena terlalu banyak dosa yang dilakukan. Seandainya sepulang dari Tanah Suci ini melakukan dosa lagi, aku minta pada Allah untuk mencabut saja nyawanya. Namun, seandainya punya manfaat untuk orang lain, Uje minta disembuhkan. ADia yang dulu angkuh, sekarang tak berdaya. Setelah pulang beribadah, Uje membaik. Dia mencoba bertahan dalam kondisi bertobat itu, tapi ternyata sulit luar biasa.

Pengakuan Jefri Tentang Isteri

Setelah berkali-kali jatuh-bangun, akhirnya Jeffry kembali dekat pada agama. Kasih sayang kekasih yang akhirnya menjadi istri ikut menjadi pembangkit semangatnya. Perjuangannya menjadi ustaz cukup berat sampai akhirnya ia sukses jadi penceramah. Sepulang umrah, aku mencoba hidup lurus. Namun, lagi-lagi dia tergoda. Suatu malam, aku dan teman-teman berencana nonton jazz di Ancol. Dia memperingatkan mereka untuk tidak bawa narkoba, karena
kami sudah sepakat untuk berhenti memakai. Ternyata, salah satu temannya masih saja membawa cimeng. Apesnya, kami dirazia polisi di depan Hailai.

Teman-temanku yang lain kabur. Tinggallah aku, temanku yang membawa cimeng, dan satu teman lain. Aku sulit kabur karena mobil yang kami pakai adalah mobilnya. Akhirnya kami bertiga dibawa ke kantor polisi dan ditahan. Aku dilepas karena tak terbukti membawa. Dia mencoba telepon obunya untuk menjelaskan masalah ini, tapi ibunya tak mau menerima telepon Uje.

Si penerima telepon malah diminta ibunya untuk mengatakan, beliau tak anak bernama Jeffry. Hatinya tercabik-cabik. Pedih rasanya tak diakui sebagai anak oleh ibu. Diakui, pastilah hati ibunya sudah sedemikian sakit. Bayangkan, Uje yang sebelumnya sudah mengaku bertobat, malah kembali memilih jalan yang salah. Meski Uje sudah bersumpah demi Tuhan tidak memakai narkoba lagi, Umi tak percaya lagi. Itulah puncak kemarahan Ibunya Sungguh bersyukur, Allah masih berkenan menolongnya. Datang seorang gadis cantik dalam hidupnya. Ia mau menerima Uje apa adanya. Sebelumnya, banyak gadis meninggalkanku sehingga aku merasa sebatang kara dalam cinta.

Apalagi setelah lulus di tahun 1990 dan kuliah di akademi broadcasting, kenakalan Uje tak berkurang. Dia bergaul dengan pemakai narkoba dan sering dugem. Bahkan Uje akhirnya tak menyelesaikan kuliah. Pada tahun 1991, Uje pernah menjadi dancer di salah satu club. Uje juga sering nongkrong di Institut Kesenian Jakarta. Di kala para pemain sinetron sedang latihan, kadang-kadang Uje menggantikan salah satunya. Ia pun ikut casting dan mendapat peran. Salah satu sinetron yang sempat dibintanginya adalah Pendekar Halilintar. Bahkan Uje pernah dinobatkan sebagai pemeran pria terbaik dalam Sepekan Sinetron Remaja yang diadakan TVRI pada 1991.

Uje bertemu dengan Pipik Dian Irawati, seorang model gadis sampul majalah Aneka tahun 1995 asal Semarang, Jawa Tengah. Saat itu, Uje masih berstatus sebagai pemakai. Meski demikian, hal itu tidak menghalangi Pipik yang bersedia dinikahi secara siri pada 7 September 1999. Dua bulan kemudian mereka menikah resmi di Semarang. Pernikahannya dengan Pipik ini dikaruniai tiga orang anak, Adiba Khanza Az-Zahra, Mohammad Abidzar Al-Ghifari, dan Ayla Azuhro.

Tentu saja keluarganya tak ada yang tahu, karena sengaja disembunyikan. Mungkin mereka baru tahu sekarang, setelah membaca kisah hidupnya di berbagai media. Sementara itu, Jefri sibuk tur keluar kota sebagai model, sehingga sering tak ketemu.

Pipik isterinya sangat berarti buatnya. Dia mengerti, peduli dan perhatian padanya. Padahal, dia sempat hampir menikah dengan orang lain. Ternyata Allah sayang padanya. Allah menunjukkan, wanita yang nyaris dinikahi itu bukan untuknya. Pipik bagai bidadari yang datang dengan cinta yang besar. Ia memberi keyakinan, menikah dengannya akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.

Jefri mendatangi ibunya dan minta izin untuk menikah. Luar biasa, ibunya tetap menerima dengan segala kasih sayangnya. Sambil menangis, Umi mengizinkan menikah. Jefri sendiri terbilang nekat. Sebab, waktu itu tak punya-apa. Badannya kurus kering, dengan mata belok, dan penyakit paranoid yang diderita tak kunjung sembuh. Bahkan, pekerjaan pun tak punya.

Untuk menghindari maksiat, mereka menikah di bawah tangan pada tahun 1999. Teman-temannya yang sekarang sudah meninggal karena over dosis, sempat menghadiri pernikahannya. Setelah itu, mereka tinggal di rumah Umi. Sekitar 4 – 5 bulan setelah itu, kami menikah secara resmi di Semarang.

Namun, menikah rupanya tak cukup menghentikan kebandelannya. Istrinya pun merasakan getahnya. Dia pernah memakai narkoba di depannya, dan menggunakan uangnya untuk membeli barang haram tersebut. Kesulitan lain, Jefri dan Pipik sama-sama menganggur. Pernah mencoba berdagang kue. Malam hari menggoreng kacang, esok paginya bikin kue isi kacang dan susu. Lalu dititipkan ke toko kue.

Tapi mungkin rezeki bukan di situ. Kue yang kami buat hanya laku beberapa buah. Dalam sehari kami hanya membawa pulang Rp 200 – 300. Akhirnya mereka berhenti berjualan kue. Kehidupan selanjutnya dijalani dengan penuh perjuangan sekaligus kesabaran.

Awal menikah, mereka tinggal di rumah Umi. Meski hidup seadanya, beliaulah yang membiayai hidup kami. Aku dan Jeffry tak jarang makan sepiring berdua, karena memang benar-benar tak ada yang bisa dimakan. Berat rasanya jadi istri dari suami penganggur, apalagi setelah menikah aku tidak lagi bekerja.

Sadar Dari Kegelapan

Hal yang menyadarkan Uje dari kehidupan semu adalah saat dirinya diajak umroh oleh ibu dan kakaknya. Sebagai awal dari usaha pertaubatan, Uje mendapat amanah dari kakak tertuanya alm. Ust. H. Abdullah Riyad, untuk melanjutkan dakwah kakaknya di Jakarta. Sebab alm Ust. H. Abdullah Riyad mendapatkan kepercayaan dari MUIS (Majlis Ugame Islam Singapura) untuk menjadi Imam besar di Masjid Haji Mohammad Soleh, bersebelahan dengan Maqam Habib Nuh Al Habsyi, Palmer Road, Singapura.

Pelan-pelan, Uje kembali dekat pada agama. Perubahan besar terjadi dalam hidupnya pada tahun 2000. Kala itu, Fathul Hayat, kakak keduanya yang setengah tahun silam meninggal karena kanker otak, meminta menggantikannya memberi khotbah Jumat di Mangga Dua. Pada waktu bersamaan, dia diminta menjadi imam besar di Singapura.

Fathul memang seorang pendakwah. Selama dia di Singapura, semua jadwal ceramahnya diberikan padaku. Pertama kali ceramah, Uje mendapat honor Rp 35 ribu. Uang dalam amplop itu diserahkan pada Pipik. Dikatakan padanya, ini uang halal pertama yang bisa diberikan padanya. Mereka berpelukan sambil bertangisan. Makin lama ceramahku makin bisa diterima banyak orang. Bahkan sekarang, banyak diundang untuk ceramah di mana-mana, termasuk di luar kota dan stasiun teve.

Dari situlah Uje mulai berdakwah lewat majelis taklim, mushola, masjid, dan perlahan-lahan bisa seperti sekarang ini, dikenal oleh masyrakat banyak dikagumi oleh seluruh kalangan. Selain itu Uje, juga menyampaikan dakwahnya dalam bentuk lagu-lagu Islami, debut albumnya, Lahir Kembali diluncurkan 2006 lalu. Beberapa lagu diciptakannya sendiri dan dinyanyikan bersama penyanyi lagu-lagu religius muslim, seperti Opick, bahkan pernah berkolaborasi dengan grup band Ungu dalam mini album Ungu bertajuk Para Pencari-Mu (2007).

sumber : wikpedia dan berbagai sumber lainnya

Supported By :

http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR6YmYb-hui0xP9f-qqBB_K64r-8VBm1tFHJQcztlW4hvtQ7V37Xw

KORAN ANAK INDONESIA, Yudhasmara Publisher

“PUPUK MINAT BACA ANAK DAN REMAJA INDONESIA SEJAK DINI”. Membaca adalah investasi paling kokoh bagi masa depan perkembangan moral dan intelektual anak. “SELAMATKAN MINAT BACA ANAK INDONESIA”.

Jl Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta PusatPhone : (021) 70081995 – 5703646

email : judarwanto@gmail.com http://mediaanakindonesia.wordpress.com/

Copyright 2011. Koran Anak Indonesia  Network  Information Education Network. All rights reserved

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s