Zakat, Untuk Membersihkan Harta

Zakat adalah jumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh orang yang beragama Islam dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya (fakir miskin dan sebagainya) menurut ketentuan yang telah ditetapkan oleh syarak.Zakat merupakan rukun ketiga dari Rukun Islam.

Jenis zakat

Zakat terbagi atas dua jenis yakni:

Zakat fitrah
Zakat yang wajib dikeluarkan muslim menjelang Idul Fitri pada bulan Ramadan. Besar zakat ini setara dengan 3,5 liter (2,5 kilogram) makanan pokok yang ada di daerah bersangkutan.

Zakat maal (harta)
Mencakup hasil perniagaan, pertanian, pertambangan, hasil laut, hasil ternak, harta temuan, emas dan perak. Masing-masing jenis memiliki perhitungannya sendiri-sendiri.

Yang berhak menerima

Ada delapan pihak yang berhak menerima zakat, yakni:

  • Fakir – Mereka yang hampir tidak memiliki apa-apa sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok hidup.
  • Miskin – Mereka yang memiliki harta namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar untuk hidup.
  • Amil – Mereka yang mengumpulkan dan membagikan zakat.
  • Mu’allaf – Mereka yang baru masuk Islam dan membutuhkan bantuan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan barunya
  • Hamba sahaya yang ingin memerdekakan dirinya
  • Gharimin – Mereka yang berhutang untuk kebutuhan yang halal dan tidak sanggup untuk memenuhinya
  • Fisabilillah – Mereka yang berjuang di jalan Allah (misal: dakwah, perang dsb)
  • Ibnus Sabil – Mereka yang kehabisan biaya di perjalanan.

Yang tidak berhak menerima zakat

Orang kaya. Rasulullah bersabda, “Tidak halal mengambil sedekah (zakat) bagi orang yang kaya dan orang yang mempunyai kekuatan tenaga.” (HR Bukhari).
Hamba sahaya, karena masih mendapat nafkah atau tanggungan dari tuannya.
Keturunan Rasulullah. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya tidak halal bagi kami (ahlul bait) mengambil sedekah (zakat).” (HR Muslim).
Orang yang dalam tanggungan yang berzakat, misalnya anak dan istri.
Orang kafir.

Zakat fitrah dari Ibnu Abbas RA, “Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan yang kotor, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barang siapa yang mengeluarkannya sebelum (selesai) shalat Id, maka itu adalah zakat yang diterima (oleh Allah); dan siapa saja yang mengeluarkannya seusai shalat id, maka itu adalah sedekah biasa (bukan zakat fitrah).” (Hasan: Shahihul Ibnu Majah)

Dalam pemberian zakat secara umum hanya diperbolehkan kepada 8 asnaf (AT Taubah: 60). Akan tetapi, untuk zakat fitrah, pemberian zakat dikhususkan untuk orang-orang miskin karena tujuan dari zakat fitrah adalah agar setiap orang atau seluruh kaum muslimin tercukupi pangannya pada hari raya.

Menurut ulama, pemberian zakat kepada adik, keponakan, sepupu (bukan keturunan satu garis vertikal) diperbolehkan sebab mereka dikategorikan bukan tanggungan nafkah secara langsung. Yang tidak diperbolehkan adalah memberikan zakat kepada istri atau suami, anak, orang tua (tanggungan secara langsung). Apabila keponakan Bapak dapat dikategorikan sebagai orang miskin, maka Bapak bisa memberikan zakat fitrah kepada keponakan Bapak tersebut.

Adapun tentang zakat profesi, ketentuan penghasilan yang terkena kewajiban zakat adalah apabila telah mencapai nisab (nilai harta terendah). Untuk zakat penghasilan, nisabnya setara dengan 635 kg beras. Jika asumsi harga beras perkilogram adalah Rp 8.000, maka nisab zakat penghasilan adalah Rp 5.224.000 per bulan.

Zakat yang dikeluarkan adalah 2,5 persen dari penghasilan setiap bulannya. Ada dua metode perhitungan zakat penghasilan, yakni 2,5 persen dari penghasilan bruto dan, kedua, adalah pendapatan bersih (pendapatan bruto dikurangi kebutuhan bulanan) dikalikan 2,5 persen.

Dalam pemberian zakat mal (harta), dapat dilakukan kepada keluarga dekat (bukan keturunan dalam garis vertikal) asalkan kondisi mereka memang layak dimasukkan ke dalam golongan yang berhak penerima zakat. Allah SWT menjelaskan, pemberian atau pendistribusian zakat hanya diberikan kepada delapan asnaf (kelompok) yaitu:

“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil (pengurus-pengurus) zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, untuk membebaskan orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. al-Taubah: 60)

Ada sisi keutamaan saat mengeluarkan zakat kepada keluarga terdekat. Nabi SAW bersabda, “Dia mendapatkan dua pahala, yaitu pahala menyambung kekerabatan dan pahala sedekah.” (HR Bukhari)

Artikel Terekomendasi dan terkait :

 

 

Supported By :

http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR6YmYb-hui0xP9f-qqBB_K64r-8VBm1tFHJQcztlW4hvtQ7V37Xw

KORAN ANAK INDONESIA, Yudhasmara Publisher

“PUPUK MINAT BACA ANAK DAN REMAJA INDONESIA SEJAK DINI”. Membaca adalah investasi paling kokoh bagi masa depan perkembangan moral dan intelektual anak. “SELAMATKAN MINAT BACA ANAK INDONESIA”.

Jl Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta PusatPhone : (021) 70081995 – 5703646

email : judarwanto@gmail.com http://mediaanakindonesia.wordpress.com/

Copyright 2011. Koran Anak Indonesia  Network  Information Education Network. All rights reserved

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s