Bom Meledak Lagi , Siapa Yang Salah ?

Bahaya laten teroris di Indonesia meledak lagi. Saat ini yang mendapatkan gilirannya adalah sebuah gereja di Solo Jawa Tengah. Begitu ledakan itu timbul tidak hanya membuat panik jemaat gereja tetapi mengguncang masyarakat Indonesia. Selain ikut berduka cita, sebagian bangsa ini mengutuk pelaku tetapi sebagian lainnya berusaha mencari kambing hitam

Tampaknya bahaya laten terorisme tidak akan pernah berhenti meneror bangsa ini. Ledakan bom di gereja Bethel Di Solo Jawa Tengah kembali menunjukkan bahwa gerakan terorisme yang berlatarbelakang radikalisme tidak pernah menghilang bahkan cenderung menguat. Gerakan radikalisme, baik yang berbasiskan agama maupun berbasis etnis dan ideologi tertentu, ternyata semakin tumbuh subur di Indonesia. Penanganan kasus terorisme yang berlatar belakang radikalisme tersebut sangat sulit dan kompleks. Cara pencegahan termudah mungkin melakukan deteksi dini dan mengidentifikasi para calon teroris dan bibit-bibitnya di lingkungan hidup kita atau bahkan mungkin dalam anggota keluarga sendiri. Bila deteksi dini tersebut dapat dilakukan maka upaya pencegahannya dapat dilakukan dengan cepat dan baik. Deteksi dini dan pengenalan paham radikalisme yang berpotensi teroris.agar generasi muda tidak mudah terbujuk jebakan paham tersebut.

Terorisme dan radikalisme dapat dijumpai pada siapa saja tanpa terkecuali, meski akan lebih mudah terjadi pada kelompok tertentu. Tetapi jangan diremehkan bujukan dan jebakan terorisme dan radikalisme dapat terjadi dalam semua tempat di lingkungan masyarakat.

Meski pelaku bom Solo diduga berusia 30 tahun. Tetapi sebelumnya umumnya kelompok teroris selalu merekrut generasi mudah untuk dijadikan eksekutor dalam setiap aksinya. Radikalisme berarti suatu konsep atau semangat yang berupaya mengadakan perubahan kehidupan politik secara menyeluruh, dan mendasar tanpa memperhitungkan adanya peraturan-peraturan dan ketentuan-ketentuan undang-undang atau etika budaya dan sosial yang sedang berlaku. Beberapa ahli mengatakan bahwa radikalisme adalah suatu paham liberalisme yang sangat maju bahkan menyamakan radikalisme dengan ekstremisme dan fundamentalisme.

Radiikalisme
Ekstremisme dalam politik berarti terolong kepada kelompok-kelompok kiri radikal, estrem kiri atau ekstrem kanan. Radikalisasi transformasi dari sikap pasif atau aktivisme kepada sikap yang lebih radikal, revolusioner, ekstremis, atau militan. Sementara istilah “Radikal” biasanya dihubungkan dengan gerakan-gerakan ekstrem kiri, “Radikalisasi” tidak membuat perbedaan seperti itu. Radikalisme adalah sebuah kelompok atau gerakan politik yang kendur dengan tujuan mencapai kemerdekaan atau pembaruan electoral yang mencakup mereka yang berusaha mencapai republikanisme, penghapusan gelar, redistribusi hak milik dan kebebasan pers, dan dihubungkan dengan perkembangan liberalisme. Gerakan radikalisme global bukanlah fenomena yg baru. Ini adalah fenomena Siaga terror bom yang diumumkan pemerintah Indonesia salah satunya disebabkan karena gerakan radikalisme tidak pernah menghilkang bahkan cenderung menguat. Gerakan radikalisme, baik yang berbasiskan agama maupun berbasis etnis dan ideologi tertentu, ternyata semakin tumbuh subur di Indonesia.

Radikalisme berarti suatu konsep atau semangat yang berupaya mengadakan perubahan kehidupan politik secara menyeluruh, dan mendasar tanpa memperhitungkan adanya peraturan-peraturan dan ketentuan-ketentuan undang-undang atau etika budaya dan sosial yang sedang berlaku. Beberapa ahli mengatakan bahwa radikalisme adalah suatu paham liberalisme yang sangat maju bahkan menyamakan radikalisme dengan ekstremisme danfundamentalisme. Ekstremisme, dalam politik berarti terolong kepada kelompok-kelompok kiri radikal, estrem kiri atau ekstrem kanan. Radikalisasi transformasi dari sikap pasif atau aktivisme kepada sikap yang lebih radikal, revolusioner, ekstremis, atau militan. Sementara istilah “Radikal” biasanya dihubungkan dengan gerakan-gerakan ekstrem kiri, “Radikalisasi” tidak membuat perbedaan seperti itu. Radikalisme adalah sebuah kelompok atau gerakan politik yang kendur dengan tujuan mencapai kemerdekaan atau pembaruan electoral yang mencakup mereka yang berusaha mencapai republikanisme, penghapusan gelar, redistribusi hak milik dan kebebasan pers, dan dihubungkan dengan perkembangan liberalisme.

Gerakan radikalisme global bukanlah fenomena yg baru. Ini adalah fenomena sosial yang sudah sejak lama eksis. Gerakan ini sudah lahir sejak globalisasi dimulai ribuan tahun yang lalu. Gerakan global yang paling besar adalah gerakan agama seperti penyebaran agama-agama seperti Islam dan Kristen. “Gerakan radikal bukan hanya fenomena satu agama saja. Ada beberapa gerakan radikal global dan itu bukan hanya Islam
Dalam beberapa waktu terakhir ini aksi yang dilatarbelakangi radikalis telah banyak mengorbankan nyawa. Aksi terorime dan radikalisme di beberapa sudut daerah yang kalau dibiarkan bisa mengganggu keamanan. Juga terjadi pembangkangan hukum berupa penyerangan terhadap aparat yang sedang bertugas. Penyerangan terhadap aparat keamanan, baik Polri maupun TNI, yang sedang mengemban tugas negara tidak bisa dibenarkan secara hukum. Beda dengan, misalnya, perkelahian kelompok masyarakat dengan oknum aparat di luar urusan tugas atau secara pribadi.
Permasalahan radikalisme agama sangat kompleks di dalam semua kehidupan masyarakat sehingga dibutuhkan perencanaan kebijakan dan implementasi yang komprehensif dan terpadu. Beberapa faktor yang menyebabkan terorisme masih terus berkembang diantaranya kemiskinan, kebodohan, dendam politik dengan menjadikan ajaran agama sebagai satu motivasi untuk membenarkan tindakannya dan pemahaman Islam yang salah.

Deteksi Dini

Terdapat beberapa sifat dan karakter gerakan radikal global. Salah satunya adalah mereka sangat eksklusif dan menganggap bahwa hanya mereka yang mengetahui kebenaran. Para pelaku memonopoli kebenaran untuk kalangan mereka sendi. Gerakan radikal juga berorientasi pada perubahan sosial untuk semua. dan menghalalkan segala metode untuk melaksanakannya. Radikalisme Islam, secara umum tidak berbeda dengan gerakan radikal yang lain.
Penganut radikalisme selalu mengagungkandan mempertahankan kebenarnya yang diyakini dengan harta dan nyawa sekalipun.Mereka menganggap dirinya sebagai kebenaran itu sendiri. Siapa pun yang berbeda atau berseberangan dengan rumus keyakinannya adalah orang -orang “kafir, musyrik, munafik, atau ahli bid’ah”. Siapa pun yang beda keyakinan dengan dirinya adalah sesat dan hanya layak di lempar ke dalam neraka. Bisa dibayangkan, bagi seseorang yang hanya layak dilempar ke “neraka”, maka sekedar dirobohkan rumahnya, disakiti tubuhnya, bahkan dilenyapkan nyawanya, adalah ringan adanya.

Kaum radikalisme ini memandang agama sebagai garis api atau pedang pemisah antara kawan dan lawan. Yang sekeyakinan dengan mereka adalah mukminin , kawan yang yang layak disayang; sementara yang beda keyakinan, adalah kafir musuh yang harus dilawan. Pandangan sempit mereka bahjkan mengatakan bahwa dari sekian banyak orang yang mengaku muslim di Indonesia dan di dunia hanya sedikit saja yang benar-benar beriman dan layak menjadi saudara, sedangkan sebagian besar lainnya adalah orang-orang kafir, munafik, fasik dan ahlul bid’ah, atau “musuh-musuh” yang harus dimusnahkan.

Karakter dan ciri khas kepribadian seperti mereka biasanya sering menyendiri dan menutup diri. Sulit bergaul dengan teman kerja dan tetangganya. Hal ini terjadi karena mereka menganggap sebagian besar orang tidak beriman karena tidak sepaham dengannya dan tidak layak dijadikan kawan atau saudara. Bahkan tindakan mereka sangat berlebihan karena berani mengkafirkan saudara bahkan orangtuanya sekalipun.

Biasanya dalam berdebat atau mempertahankan pendiriannya selalu mau menang sendiri tidak mau mendengar sedikitpun pendapat orang lain. Karakter itu biasanya identik dengan keras kepala dan kaku. Dalam setiap pembicaraannya selalu mengkritik dengan keras dan kasar khususnya pemerintah dan aparatnya yang dianggap pemerintah toghut atau pemerintah yang tidak berlandaskan Islam.

Ternyata bukan hanya dalam pemikirannya, perilaku dalam kehidupan sehari-haripun berubah drastis. Biasanya mereka hanya mempunya kelpompok temaan yang ekslusif yangtidak bisa diikuti semua orang. Mereka sering menarik diri bila ada orang yang tidak dikenal mendekatinya. Cara berpakaiannya pun drastis berubah, biasanya banyak menggunakan baju yang tidak lazim dipakai masyarakat Indonesia seperti pada kaum wanita menutup hampir seluruh bagian tubuhnya kecuali mata dan bagi pria memakai baju panjang serba hitam atau putih yang berlebihan.

Bila berbagai tanda dan gejala di atas mulai tampak dan disertai menghilang dari rumah tanpa alasan yang jelas selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan sebaiknya harus lebih dicurigai. Biasanya dalam kepergiannya yang tidak jelas dalam waktu lama tersebut selalu tidak diketahui pasti lokasi dan tidak bisa dihubungi dengan mudah.

Bila terdapat anggota keluarga atau teman yang seperti itu sebaiknya dilakukan pendekatan dan diskusi untuk mencari lebih pasti pemikiran dan perilakunya. Bila memang ciri dan karakter tersebut dominan sebaiknya tidak ada salah salahnya melakukan koordinasi dengan pemuka agama setempat atau kalau kecurigaan sangat besar sebaiknya berkoordinasi dengan pihak kepolisian. Proses deradikalisasi harus dilakukan oleh orang yang berpengalaman dan berkompeten. Karena sangatlah tidak mudah untuk merubah sikap dan perilaku radikal yang mengakar kuat dalam tubuh seseorang.
Bila deteksi dini tanda dan gejala radikalisme tersebut dikenali sejak awal maka dapat dilakukan pencegahan untuk terjadinya tindakan yang merugikan diuri sendiri dan masyarakat. Biasanya dalam keadaan seperti ini pendekatan secara kekeluargaan sangat sulit bila hanya mengandalkan orang tua atau saudara. Pendekatan yang harus dilakukan adalah melalui tokoh panutan yang dihormati atau dikagumi. Tetapi sayangnya bila seseorang sudah terjebak dalam radikalisme yang kuat maka kekaguman pada tokoh terdahulu sudah hilang dalam sekejap berganti dengan idealisme dan pemikiran baru yang sulit diintervensi.

Teror bom bukan hanya milik Indonesia, berbagai belahan di dunia tak luput dari serangan yang menakutkan tersebut. Tampaknya ancaman teroris tersebut sulit dielakkan lagi. Nantinya. Ancaman teroris tampaknya akan menjadi bagian kehidupan masyarakat Indonesia dan dunia yang harus terus diwaspadai sebagai bahaya laten.

Akankah Indonesia atau dunia aman dari bahaya laten teroris? Adalah sebuah pertanyaan yang paling sulit dijawab oleh siapapun juga, bahkan oleh seorang pakar kriminal atau pakar teroris sekalipun. Hal ini terjadi karena penyebab dan pemicu bahaya teroris adalah muktifaktorial. Selama berbagai faktor penyebab itu tidak dikendalikan dengan baik, maka bahaya teroris akan terus mengancam kehidupan manusia yang beradab.

Penyebab atau cikal bakal teroris di tempat satu dan tempat yang lain sangat berbeda. Demikian juga bila dilihat dari dimensi waktu juga sangat berbeda. Faktor penyebab ketika Borobudur diguncang bom teoris sangat berbeda dengan bom yang baru meledak di Jakarta baru-baru ini. Demikian juga teror bom yang diledakkan teroris di belahan dunia yang lain sangat berbeda dengan yang di Indonesia. Memang, mungkin ada sebagian kesamaan dalam faktor penyebab tetapi seringkali juga terdapat perbedaan mendasar.

Kompleksitas faktor penyebab

Bila dicermati secara mendalam akar penyebab munculnya aksi terorisme sangat rumit dan kompleks. Berbagai muktifaktorial yang menyangkut masalah transnasional dan kehidupan politik dunia bisa jadi penyebab dan pemicu terjadinya terorisme. Secara umum muktifakktorial yang terjadi adalah faktor ketidakadilan itu terjadi di berbagai belahan dunia baik secara sosial, politik, ekonomi, maupun budaya. Berbagai faktor ketidakadilan tersebut akan memicu faktor radikalisme dan fundamentalisme. Radikalisme dan fundamentalisme akan dipermudah oleh rendahnya pendidikan, kemiskinan, budaya,  dan kehidupan sosial. Keterbelakangan pendidikan, perubahan politik, kemiskinan atau rendahnya peradaban budaya dan sosial seseorang akan memicu radikalisme dan fundamentalisme yang berujung pada kekerasan, ekstrimisme dan terorisme. Semua agama apapun di dunia ini, termasuk agama Islam tidak mengajarkan kekerasan. Islam adalah agama yang penuh toleransi. Melihat kompleksitas permasalahan tersebut tampaknya terorisme bukan semata-mata masalah agama, melainkan masalah seluruh umat manusia dalam berbagai aspek.

Muktifaktorial tersebut juga akhirnya yang akan mengakibatkan berbagai pihak akan melakukan aksi saling tuding sebagai biang penyebabnya. Bom di Jakarta yang mengguncang di Jakarta bom, telah menjadikan banyaknya kambing hitam yang muncul. Pihak keamanan dan pihak intelejen dituding tidak becus dan tidak professional dalam mencegah aksi tersebut. Tapi tudingan selalu dimentahkan, jangankan di Indonesia di negara Amerika Serikat sebagai pusat rujukan anti teror duniapun tidak bisa mencegah hancurnya gedung WTC oleh tabrakan maut para teroris.

Banyak yang berkeyakinan bahwa bila dalang teroris di Indonesia seperti Nurdin M Top ditangkap maka ancaman bom di Indonesia akan hilang. Hipotesa inipun juga akan semakin diragukan, karena radikalisme dan fundamentalisme tersebut ternyata akan tumbuh hilang berganti. Hal ini juga ditunjukkan dengan teroris di belahan dunia yang lain tetap subur, meskipun para dalangnya telah dilenyapkan.

Amerika dan Israelpun selanjutnya pasti akan dituding sebagai faktor penyebab. Banyak pemimpin dunia Islam dan tokoh agama Islam menuding mereka sebagai biang kerok terorisme dunia. Sepintas memang betul hal ini tampaknya sebagai penyebab. Karena, sasaran para teroris adalah kepentingan asing khususnya Negara Amerika dan Negara Barat. Tetapi serta merta pemimpin negara yang tertuduh berdalih, kenapa hanya negara muslim tertentu yang tubuh subur ancaman teroris. Bahkan pihak negara adidaya dan pihak Barat tersebut balik menuding bahwa negara tertentu adalah produsen teroris dunia.

Sekali lagi, bila muktifaktorial yang berpengaruh terhadap suatu masalah maka kontroversi dan beda pendapat tidak mungkin mudah terselesaikan. Saling tuding, saling tuduh dan saling curiga terhadap berbagai pihak mungkin saja semua ada benarnya. Sebaliknya, dengan keras kepala pihak tertentu akan bersikeras bahwa dialah yang paling benar sedangkan pihak lain adalah yang mutlak salah.

Sedangkan kehebatan faktor keamanan di suatu wilayah, bukanlah satu-satunya jaminan untuk dapat melenyapkan teroris di muka bumi ini. Bahkan upaya untuk memerangi terorisme yang digalang Amerika Serikat sebagai negara paling maju di berbagai bidangpun ternyata tak membuat dunia lebih aman. Karena itu banyak ahli beranggapan bahwa AS telah kalah dalam perang melawan terorisme.

Hal ini terungkap dalam survei yang melibatkan 116 pakar dan mantan pejabat pemerintahan AS. Survei tersebut dilakukan oleh sebuah lembaga terkemuka di AS, yaitu majalah US Foreign Policy, dengan Center for American Progress. Sebanyak 84 persen responden menyatakan bahwa AS telah kalah dalam perang terhadap terorisme. Sebanyak 85 persen menyatakan bahwa dunia kini telah berubah menjadi tempat yang sangat berbahaya dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Sedang 80 persen responden menegaskan bahwa AS dalam beberapa dekade mendatang akan menjadi target serangan. Mereka yang dilibatkan dalam survei termasuk di antaranya adalah mantan menteri luar negeri, para penasihat keamanan nasional, pejabat tinggi angkatan darat, anggota badan intelijen, akademisi, juga para jurnalis. Hampir 80 persen responden pernah bekerja sebagai pegawai pemerintah. Lebih dari setengahnya mereka menempati jabatan di lingkungan ekskutif, sepertiganya adalah dari kalangan militer, dan 17 persen lainnya berasal dari komunitas intelijen.Terlihat nyata, apa yang dilakukan pemerintah AS yaitu mengerahkan pasukan militer dan menyebarkan ancaman melalui kekuatan militer, bukanlah pandangan yang realistis. Sebab apa yang dilakukan AS hanya memerangi gejalanya bukan akar penyebab terorisme.

Intropeksi semua pihak

Melihat banyaknya faktor yang berpengaruh dan pihak yang terkait dengan terorisme, maka memusnahkan bahaya laten terioris tidak semudah membalik telapak tangan.  Bila berbagai faktor yang berpengaruh sebagai penyebab teroris tidak intropeksi maka mencegah bahaya laten teroris hanya sebuah impian. Semua pihak bila dicermati punya potensi untuk media tumbuhnya cikal bakal teroirisme tanpa disadari. Berbagai pihak termasuk lingkungan nasional dan internasional harus melakukan komunikasi dengan mengedepankan intropeksi diri bukan dengan semangat saling menyalahkan. Alangkah damainya dunia ini bila Muhamadiyah atau NU sebagai basis masyarakat muslim yang besar di dunia, mengawali membuka komunikasi dengan masyarakat dunia lainnya. Awal semangat komunikasi tersebut bukan semata menghilangkan bahaya teroris itu sendiri, tetapi saling introspeksi tentang kelemahan dan kekurangannya sehingga kenapa teroris tersebut menjadi bahaya laten.

Di dalam negeri semua pihak harus saling bergandeng tangan bersatu, bukan untuk saling menyelahkan tetapi justru untuk saling introspeksi diri. Dalam jangka pendek mungkin saja mempersempit ruang gerak dan  penangkapan dalang teroris di Indonesia  harus segera dilakukan. Tetapi hal ini bukan solusi utama dalam penghancuran terorisme di Indonesia. Penjagaan super ketat di berbagai plasa dan hotel paska pengeboman, bukanlah tindakan yang utama. Karena saat ini pasti para teroris akan lenyap ditelan bumi. Yang nantinya mereka akan menebar teror bom yang mungkin lebih menakutkan lagi.

Kelemahan pihak pemerintah, pemuka agama dan seluruh lapisan masyarakat dalam menyikapi akibat kemiskinan, buruknya pendidikan, rendahnya pemahaman agama, rendahnya nilai budaya dan kehidupan sosial sebagai pemicu terorisme harus segera diperbaiki.

Pemberdayaan kaum moderat dan kaum  intelektual merupakan suatu keharusan dalam pengembangan masyarakat modern. Keterlibatan berbagai pihak termasuk pemerintah, pemuka agama, lembaga sosial dan semua lapisan masyarakat melalui berbagai mekanisme tidak boleh lengah, jika tidak ingin radikalisme dan fundamentalisme muncul dan menjadi ancaman bersama. Pemahaman pengetahuan ajaran Islam yang mendalam dan maraknya toleransi dalam kehidupan beragama dapat menghindarkan pemikiran radikal dan fundamental yang mengarah pada aksi-aksi kekerasan.

Bila semua pihak bersatu mengedepankan sikap toleransi dan instropeksi maka akan menjadi media yang paling dahsyat uintuk melawan terorisme dimanapun berada. Tetapi bila sikap saling menyalahkan dan saling curiga dikedepankan maka jangan berharap bahaya laten teroris akan lenyap di muka bumi ini.

 

Supported By :

http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR6YmYb-hui0xP9f-qqBB_K64r-8VBm1tFHJQcztlW4hvtQ7V37XwKORANDO – Koran Anak Indonesia, Yudhasmara Publisher  “PUPUK MINAT BACA ANAK DAN REMAJA INDONESIA SEJAK DINI”. Membaca adalah investasi paling kokoh bagi masa depan perkembangan moral dan intelektual anak. “SELAMATKAN MINAT BACA ANAK INDONESIA”.

Jl Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta PusatPhone : (021) 70081995 – 5703646

email : korando.online@gmail.com http://mediaanakindonesia.wordpress.com/

Copyright 2011. Koran Anak Indonesia  Network  Information Education Network. All rights reserved

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s